Rabu, 15 April 2009

HIDUP YANG BERHARGA



Dari kejauhan,lampu –lintas di perempatan kota San Fransisco masih menyala hijau. David segera menekan pedal gas. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia ntahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati David berdebar berharap ia bisa segera melewatinya. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. David bimbang, haruskah ia berhenti? “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Pritt!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. David menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hei, itu Bobby, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati David agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. “Hello Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!” “Hai, David!” “Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.” “Oh ya?” “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatu. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.” “Saya mengerti. Tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini. Tolong keluarkan SIM-mu,” Jawab Bobby.

Dengan ketus David menyerahkan SIM, lalu masuk kedalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobby menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobby mengetuk kaca jendela. David memandangi wajah Bobby dengan kecewa. Dibukanya kaca jendela sedikit. Lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobby kembali ke posnya. David mengambil surat tilang yang diselipkan Bobby di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini? Ternyata SIM-nya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku?. Nota apa ini? Buru-buru David membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobby.

“Hello David. Tahukah kamu, dulu aku mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama tiga bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku David. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.” (Salam Bobby).

Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati dan lebih berarti.

Info: By -Email

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran & Komentar Anda, untuk setiap Artikel yang diterbitkan..Terimakasih.