Sabtu, 14 Februari 2009

Beda Menabung & Berinvestasi





Selama ini orang menganggap “Menabung” adalah kegiatan menaruh uang di suatu tempat yang dilakukan tidak untuk mendapatkan hasil, tetapi hanya untuk “disimpan”.
Sementara “Berinvestasi” adalah kegiatan menaruh uang di suatu tempat yang dilakukan untuk mendapatkan hasil. Dan bukan untuk disimpan, tetapi untuk mendapatkan hasil, dan kalau bisa sih hasilnya besar.

Contohnya:
1. Saham
2. Reksa Dana
3. Tanah, dll

Supaya bisa dapat hasil yang besar dan maksimal. Tetapi tetap harus dilakukan dengan cermat dan teliti, supaya anda tidak rugi.
Jadi mulailah dari sekarang untuk mengambil menabung atau berinvestasi karena keduanya merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan anda, tetapi ada kiat-kiat yang harus anda lakukan dalam hal menabung dan berinvestasi kalau ingin makmur yaitu:

Kiat 1: Tetapkan tujuan keuangan di masa Depan
Kiat 2: Menabunglah di depan setiap bulan
Kiat 3: Investasikan Bonus Anda
Kiat 4: Produktifkan Harta Anda
Kiat 5: Persiapkan diri menghadapi masa-masa sulit

Jadi jangan..tunggu apalagi, begegaslah mengambil keputusan dari sekarang supaya masa depan Anda Terjamin dan Bahagia.

Antara Pengusaha dan Intelektual


Enak mana jadi Pengusaha ( di sini digambarkan sebagai “orang bodoh” dan orang pintar (intelektual)?

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya di bisnis.
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar.
Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja.
Orang bodah berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruhlah orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah Hukum (SH).
Oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodah.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.

Saat bisnisnya orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang bekerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap di berikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara keluarganya orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari lowongan pekerjaan.

Bill Gates (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA Group).
Adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.
Dan puluhan ribu jiwa kelurga orang pintar bergantung kepada orang bodoh.

PERTANYAAN :

Jadi mending jadi orang pintar atau orang bodoh??
Pintaran mana antara orang pintar atau orang bodoh???
Mulia mana antara orang pintar atau orang bodoh??
Susah mana antara orang pintar atau orang bodoh??

KESIMPULAN:

Jangan lama-lama jadi orang pintar, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pintar dari pada jadi orang pintar yang bodoh.

Kata kuncinya adalah “Resiko” dan “Berusaha”, karena orang bodoh berpikir pendek maka dia bilang Resikonya betul-betul kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.

Orang pintar berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh.

Dikutip dari milis nasional PPI India (ppiindia@yahooroups.com)